Elektronika
Silikon digunakan pada komponen dan material elektronika ketika konduktivitas, sifat semikonduktor, respons optik, atau kestabilan kimia diperlukan.
Silikon adalah unsur kimia bernomor atom 14 dengan simbol Si. Unsur ini berada pada periode 3, golongan 14, blok p. Pada suhu kamar keadaan acuannya padat, dan konfigurasi elektronnya [Ne] 3s2 3p2.
Konfigurasi elektron Silikon adalah [Ne] 3s2 3p2. Distribusi elektron pada kulit dan subkulit terluar mengendalikan cara atom membentuk ikatan serta keadaan oksidasi yang paling mungkin.
Untuk memahami reaktivitas, konfigurasi elektron perlu dibaca bersama posisi dalam tabel periodik. Keduanya menunjukkan elektron valensi, efek penyarungan, ukuran atom, dan kecenderungan atom kehilangan, menerima, atau berbagi elektron.
Silikon membentuk berbagai jenis zat bergantung pada struktur elektron dan lingkungan kimianya. Oksida, halida, hidrida, paduan, atau senyawa kovalen dapat menjadi penting; keadaan oksidasi menentukan struktur, ikatan, dan reaktivitas.
Keadaan acuan pada suhu kamar adalah padat. Densitas yang tercantum adalah 2.329 g/cm³. Titik lelehnya 1 688 K (1 415 °C). Titik didihnya 3 538 K (3 265 °C). Tekanan, kemurnian, struktur kristal, dan alotrop dapat mengubah nilai fisik yang terukur, sehingga kondisi pengukuran selalu penting.
Dalam praktik, Silikon dijumpai dalam aplikasi yang berkaitan dengan elektronika, sel surya dan kaca khusus. Sifat yang dimanfaatkan dapat berasal dari unsur murni, paduan, senyawa, atau isotop tertentu; karena itu bentuk kimia selalu penting ketika membahas kegunaan sebenarnya.
Silikon digunakan pada komponen dan material elektronika ketika konduktivitas, sifat semikonduktor, respons optik, atau kestabilan kimia diperlukan.
Dalam aplikasi sel surya, Silikon atau senyawanya dipilih karena sifat kimia, fisik, listrik, optik, mekanik, atau nuklir yang sesuai dengan fungsi tersebut. Bentuk kimia yang digunakan menentukan kinerja dan risiko sebenarnya.
Dalam aplikasi kaca khusus, Silikon atau senyawanya dipilih karena sifat kimia, fisik, listrik, optik, mekanik, atau nuklir yang sesuai dengan fungsi tersebut. Bentuk kimia yang digunakan menentukan kinerja dan risiko sebenarnya.
Silikon berada pada periode 3, golongan 14. Unsur tetangga yang ditampilkan ialah Boron; Karbon; Nitrogen; Aluminium; Fosfor; Galium; Germanium; Arsenik. Posisi tersebut memungkinkan perbandingan langsung ukuran atom, energi ionisasi, keadaan oksidasi, dan kecenderungan ikatan dengan unsur yang berdekatan dalam tabel periodik.
Nilai menggambarkan unsur atau atom netral bila sesuai. Data fisik dapat bergantung pada alotrop, tekanan, kemurnian, dan kondisi pengukuran.
Penemuan Silikon dikaitkan dengan Jöns Jacob Berzelius. Pengamatan pertama, isolasi sampel murni, dan penetapan nomor atom modern tidak selalu terjadi pada saat yang sama, sehingga sejarah unsur perlu dibaca sebagai rangkaian tahap.
Bobot atom standar Silikon dinyatakan sebagai rentang [28.084, 28.086]. Proporsi isotop pada bahan alami dapat berubah, sehingga satu angka desimal tunggal tidak selalu mewakili semua sampel.
Silikon memiliki setidaknya satu isotop stabil. Semua isotop memiliki jumlah proton yang sama tetapi berbeda jumlah neutron, sehingga massa atomnya berbeda.
Risiko Silikon bergantung pada bentuk kimia, dosis, dan jalur paparan. Unsur bebas, ion, dan senyawanya dapat memiliki dampak biologis serta lingkungan yang sangat berbeda, sehingga lembar data keselamatan zat spesifik perlu diperiksa.